Ketapang

Kalbar

Tanggal 18 Juni 1946 P. Plechelmus Dullaert CP, P. Canisius Pijnappels CP dan P. Bernardinus Knippenberg CP, tiga missionaris Pasionis pertama ke Indonesia, berangkat dengan kapal laut dari negeri Belanda. Mereka datang atas undangan Mgr. van Valenberg OFM Cap, Vikaris Apostolik Pontianak, yang disambut dengan baik oleh Superior Jenderal Kongregasi Pasionis.

Wilayah karya pertama para Pasionis Belanda meliputi daerah kota Ketapang, Sukadana dan Teluk Melano. Kebanyakan penduduk terdiri atas orang Melayu serta Tionghoa yang tinggal di daerah pantai dan orang Daya di daerah pedalaman. Tahun 1947 umat Katolik di seluruh wilayah hanya berjumlah kurang lebih 600 orang saja. Tahun demi tahun tenaga misionaris Pasionis dari Belanda bertambah banyak dan kegiatan mereka semakin meluas dengan membuka basis serta membentuk jemaat-jemaat baru.

Tanggal 26 Juni 1954 Misi Ketapang oleh Sri Paus Pius XII diubah statusnya menjadi Prefektur Apostolik dengan P. Gabriel W. Sillekens CP sebagai Prefek Apostolik pertama. Wilayah Pefektur Apostolik yang baru itu selain Kabupaten Ketapang mencakupi juga daerah Sekadau yang termasuk Kabupaten Sanggau.


Biara Pasionis "St. Yosef" di kota Ketapang

Sejak tahun 1954 hubungan antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Belanda mulai sulit karena masalah Irian Jaya dan tenaga imam dari negara kincir angin tidak diperkenankan masuk lagi. Keadaan itu sungguh menguatirkan. Mgr. Gabriel W. Sillekens CP berusaha mencari biarawan Pasionis dari negara lain untuk membantu misi di Ketapang. Undangannya disambut dengan baik oleh para Pasionis Italia, Propinsi Maria Ss.ma della Pietà.

Tanggal 3 Januari 1961, Prefektur Apostolik Ketapang diubah statusnya menjadi Keuskupan dengan Mgr. Gabriel W. Sillekens CP sebagai Administrator Apostolik. Beliau ditunjuk sebagai Uskup Ketapang pada tanggal 28 April 1962, yang waktu itu pertepatan dengan pesta St. Paulus dari Salib, Pendiri Kongregasi Pasionis. Gereja Katedral diberkati pada tanggal 10 Juni 1962 dengan nama Santa Gemma juga Pelindung seluruh Misi Ketapang. Mgr. Gabriel W. Sillekens CP ditahbiskan menjadi Uskup pada tanggal 17 Juni 1962 oleh Mgr. A. Djajasepoetra SJ, Uskup Agung Jakarta, didampingi oleh Mgr. Herk van de Burgt OFM Cap, Uskup Agung Pontianak, dan Mgr. L. van Kessel SMM, Uskup Sintang.

Pada tanggal 18 April 1961 tiba di Ketapang P. Cornelio Serafini CP dan P. Marcello Di Pietro, dua misionaris Pasionis yang pertama dari Italia, Propinsi Maria SS.ma della Pietà. Mereka ini kemudian ditugaskan di daerah Sekadau dan sekitarnya yang pada tanggal 9 April 1968 dipisahkan dari Keuskupan Ketapang dan diangkat menjadi Prefektur Apostolik Sekadau.

Sementara waktu pada tanggal 5 Mei 1963 persengketaan mengenai Irian Jaya diselesaikan: hubungan antara Indonesia dan Belanda menjadi normal kembali dan tenaga misionaris dari Belanda mulai masuk lagi. Dengan sendirinya banyak peluang untuk membuka stasi-stasi baru serta perkembangan umat Katolik selanjutnya dalam bidang keagamaan maupun dalam bidang pendidikan.

Tahun demi tahun tenaga misionaris dari luar negeri mulai lanjut usia. Pada tahun 1978 Uskup Gabriel W. Sillekens CP mengundurkan diri karena kesehatannya makin menurun. Setelah mentahbiskan imam projo pribumi pertama dari Keuskupan Ketapang, pada bulan April 1978 Mgr. Sillekens dengan tenang dan penuh pengharapan meninggalkan Indonesia dan kembali ke negeri Belanda
dimana beliau meninggal dunia (9 Mei 1981).

Tanggal 12 April 1979, hari Kamis Putih, resmi diumumkan bahwa P. Blasius Pujaraharja Pr sudah ditunjuk sebagai Uskup baru di Keuskupan Ketapang. Sejak awal tahun 1978 P. Pujaraharja oleh Keuskupan Semarang diperbantukan untuk berkarya selama tiga tahun di Keuskupan Ketapang di mana langsung diangkat menjadi Vikjen. Tahbisannya menjadi Uskup dilangsungkan pada tanggal 17 Juni 1979 oleh Kardinal Yustinus Darmoyuwono Pr, Uskup Agung Semarang,
Mgr. H. Bumbun OFM Cap, Uskup Agung Pontianak, Mgr. Isak Doera Pr, Uskup Sintang,
dan Mgr. Th. Lumanauw Pr, Uskup Agung Ujung Pandang.


Kota Ketapang: Katedral baru dan lama

Pelayanan umat di Keuskupan Ketapang secara perlahan-lahan beralih ke Pastor-Pastor Projo, karena banyak imam Pasionis sudah lanjut umur, sakit atau kembali ke negerinya. Tambahan tenaga pribumi sudah memungkingkan bahwa tiga Paroki masih dilayani oleh Pastor-Pastor Pasionis.


Web page by Vincent Carletti CP


Last update 12th March 2012